ME TIME nya Umi Ghaida, Syifa, Hakim

Bertepi sejenak untuk menyegarkan pikiran

Dibalik jodohku

Saat gelar “IBU” tertulis dalam sejarah hidup, maka langkah yang harus ditempuh adalah *Siap berjuang dalam kondisi apapun*, semangat belajar untuk menyemai kebahagiaan berbalut ketabahan bukti syukur atas nikmat yang telah Allah limpahkan.

Dan 6 tahun berlalu saya bertitle ibu, kini  ada *2 putri (Ghaida 6th, Syifa 4th) dan 1putra (Hakim 1th 8bulan)* . Alhamdulillah wa Syukurillah…

Mengenang 31 tahun lalu…  Alkisah, hiduplah dua orang ibu dalam 1kota beda kecamatan sedang mengandung buah hati. Ibu pertama berjuang gigih dimasa kehamilannya ke -4 walau dengan minimal support sang suami,  anak laki-lakinya bernama *Rahmatullah* (Kasih Sayang Allah) pun terlahir. Selang 3 bulan berikutnya ibu kedua melahirkan anak perempuan bernama *Himmah Fikriyani* (Semangat berfikir), nama panggilan sayang *Ema* dimana ibu kedua menjadikan kehamilan yg ke-8 nya sebagai hadiah untuk sang suami yang sedang menyelesaikan skripsi.

7 tahun berikutnya kedua ibu sama2 menyekolahkan anaknya di SD yang sama. Rahmat dan Ema walaupun satu kelas tapi tidak akrab hanya saling kenal saja. Rahmat yang pendiam hanya bisa memandangi Ema sang periang, cerewet dan suka ngatur2 dari bangku pojok belakang. Begitu seterusnya sampai masa SD usai.
Di jenjang menengah pertama Ema melanjutkan ke Mts seyayasan SDnya. Sedang Rahmat melanjutkan ke Mts berbeda. Tiga tahun berlalu beralih ke masa pendidikan menengah atas. Ema pemilih pondok pesantren atas kemauan sendiri, yang ternyata dia bertemu lagi dengan Rahmat dalam 1 kelas, dan yang lebih mencengangkan Rahmat sang pendiam ternyata sangat aktif di kelas juga di Kegiatan pondok lainnya, dia bak bintang di kalangan santriwati. Sontak Ema mengaguminya tapi juga mencibir dalam hati “Haah Rahmat segitunya dia terkenal kayak artis disini, padalah duluu waktu SD prestasi dia jauh dibelakangku”. Persaingan prestasi Rahmat Ema pun dimulai…. Dia yang bergaya cool, sangat jarang terlihat serius belajar dan menghafalnya sering membuat Ema kesal karena Ema harus berjuang penuh, bergaya rajin belajar dikelas untuk menyingkirkan kedudukan prestasinya Rahmat. Bahkan Ema pernah Nangis histeris diruangan kelas belakang karena dia tidak terima dengan rengking 5, jauh dibelakang Rahmat yang rengking 1.
Ema yang jaim dan Rahmat yang ramah pada semua santriwati kecuali pada Ema, mereka bak langit dan bumi. Saat Rahmat menjabat sebagia ketua Osis dan Ema Sekertarisnya rasanya sangat-sangat jarang mereka rapat serius karena memang keduanya punya gaya komunikasi berbeda dan ujung2nya bikin jengkel Ema!
Tiga tahun berlalu, 2004 mereka masing- masing melanjutkan sekolah perguruan tinggi yg berbeda.
Tahun 2004 handphone jadul mulai ramai, teman- teman sudah pada punya no hp begitupun Rahmat yg kuliah di STIE SERANG,  sedang Ema yang kuliah jauh di Purwokerto yakni Fak. Pertanian, jurusan Budidaya pertanian, program studi Pemuliaan Tanaman, sampai tahun kedua reunian belum punya HP, Rahmat saat reuni selalu mendesak Ema untuk punya HP agar komunikasi antar alumni tetap terjalin, yang membuat Ema malu karena belum juga terbeli HP karena faktor ekonomi yang pas-pasan saat kuliah. Tapi Ema yaa tetap menepis dengan gaya jaimnya.
Pada akhirnya rezeki punya HP tiba, ada manfaat juga tidak sedikit madharatnya dari HP itu. Salah satunya Ema harus meladeni berkali-kali sms dan telpon dari Rahmat yang sering curhat n minta solusi atau motivasi hidup, dan tak jarang dia curhat tentang kelemahanya dalam menjaga pandangan.  buat Ema saat itu malah dijadikan kesempatan untuk menasihati pergaulan Rahmat yang harus diluruskan. Sampai akhirnya Ema merasa kurang nyaman dengan kehadiran sms dan telpon dari Rahmat yang terbilang intens dan mencoba menghindar darinya karena khawatir ada virus Merah jambu berbalut hawa nafsu menondai jalan masa depan Ema yang sudah di azzamkan akan memulainya dengan jalan yang suci tanpa pacaran. Walaupun sesekali masih suka bertemu karena ada acara Alumni dan sudah  sangat jarang ber HP an. Tepatnya itu setelah lulus kuliah, Ema melanjutkan *4 bulan kerja di Lab kultur jaringan tanaman Perkebunan Propinsi banten di Kramat Watu Serang* . Masa- masa mencekam kerja di lab kuljar karena suasana kerja yang sepi dari keramaian selain canda gurau ibu bapak pegawai dan tugas kantor yang nyaman. Sedang Rahmat, dia membantu pekerjaan bapaknya sebagai wirausaha bidang bahan bangunan.
Di dunia kerja sesuai bidang kuliah itu Ema bergelut batinnya antara bertahan ditempat kerja yang tidak sesuai minat kata hatinya atau keluar dan beralih profesi yang sesuai passionnya.
Akhirnya Ema pun nekad menuju passionnya dan melepas gelar S.P- nya, menjadi Guru SD yang begitu menyenangkan dan menghibur. walau ia harus melewati masa pengerjaan administrasi sekolah yang melelahkan yang kurang disukainya.
Suatu hari di moment kegiatan alumni Ema bertemu lagi dengan Rahmat, dan Rahmat pun bertanyalah “Ema, apa sih alasan kamu bekerja?”, Ema menjawab dengan santai nya “Yaa karena ada kesempatan, mumpung belum nikah, karena setelah nikah belum tentu suami saya mengizinkan saya bekerja, selain itu ini sebagai pengalaman hidup juga", Rahmat hanya mengangguk-anggukan kepala, entah apa maksudnya.

Sampai suatu hari….
Ema berpikir, berpikir dan teruuss berpikir keras. Bepikir akan adanya rasa bahagia saat bertemu, rasa rindu saat berjauhan, dan rasa kecocokan untuk saling melengkapi, yup dengan Rahmat!, Seperti ada harap dan asa bila mendengarkan cerita dari teteh kandungku yang mendadak jadi teman dekatnya Rahmat.
Sepertinya dia pun punya rasa yang sama. Namun Rahmat masih menganggap Ema adalah orang yang hebat yang pernah dikenalnya sewaktu SD seolah melupakan potensi positifnya saat SLTA, diapun merasa minder pada Ema.

Akhirnya tiba waktu Ema bertekad membuka lembaran baru menyongsong masa depan, mempertahankan kekuatan ikatan suci tanpa pacaran menuju gerbang pernikahan. Ema mencoba menutup hati akan Rahmat, ia ingin mendapatkan jodoh terbaik menurut Allah bukan mengikuti hasutan Syetan. Ia pun mendatangi para guru  senior di Sekolah untuk di carikan jodoh. Selang beberapa hari berdatanganlah info seputar ikhwan yang siap menikah, namun masih memilah dan prinsip Ema.”Siapapun ikhwan yang datang, harus diterima bagaimanapun kondisinya yg penting keluarga setuju. Sampai akhirnya Ema memenuhi panggilan guru senior untuk menyampaikan kabar baik serupa yang sebelumnya keluarga tidak menyetujui. Kabar kedua itu membuat Ema mernganga tak percaya, antara mimpi dan kenyataan, karena ikhawan yang dimaksudkan guru itu adalah temanku Rahmat. Dan 2010 Mereka mengikat janji suci.
Demikian cerita happy ending nya… :D

Hikmah dari pertemanan ini, saya jadi lebih menerima kekurangan suami dan bahagia mensyukuri kelebihannya. Sampai sekarang saya masih belajar berkomunikasi produktif dgn suami n anak2.

Awal kenal IIP th 2011 setelah cuti mengajar selamanya karena melahirkan Ghaida. Tapi info IIP belum banyak, sampai saya nulis profil fb “bekerja di IIP", yg sy maksudkan adalah IIP pribadi saja, ternyata IIP itu benar2 sekolah para ibu yg ingin menjadi profesional.
Alhamdulillah bisa mendapatkan info kelas matrikulasi bach 2 di Fp Institut Ibu Profesional, itu bertepatan dgn masa berkabung kematian Ibu mertua. Ibu mertuaku sangat bersahaja, walaupun hanya dirumah saja, kemurahan hatinya pada saudara, tetangga begitu besar, terlebih perhatiannya pada kebutuhan fisik suami dan  anak2nya. Di IIP ini saya menemukan 2 karakter berbeda antara ibu mertua dan ibu sendiri yang bisa disatukan, yup ibarat 2 mata koin yang tidak bisa dipisahkan “dirumah oke, di masyarakat Oke" Saya harus terus berjuang menjadi ibu profesional.
Oiy aktifitas saya saat ini membersam
ai anak2 dan mengajar TPQ terdekat
* tugas taaruf iip, dibagikan untuk #1minggu1cerita

Mendapat tantangan judul Tema di Minggu ke - 27  1minggu1cerita yaitu " USAHA TERBAIK",
Nah nyentil banget temanya, langsung menunjuk ke diri sendiri akan ikhtiar "Khusnul Khotimah, usaha terbaik apa yang sudah saya siapkan dan kerjakan agar Allah Ridho dan mewafatkan saya dalam keadaan Khusnul Khotimah.... lanjut lagi ngetik ( disetorin dulu ya min...) :D

IBU MANAJER KELUARGA HANDALMatrikulasi Ibu Profesional sesi #6
Motivasi Bekerja Ibu
Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan ibu bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja  yang wajib profesional dalam menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, ternyata memerlukan syarat yang sama, yaitu: kita harus ‘SELESAI’ dengan manajemen rumah tangga kita.
Kita harus merasakan bahwa segala aktivitas di rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga kita yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Pun jika kita memilih bekerja di ranah publik, hal ini tidak lantas menjadikan pekerjaan di publik sebagai pelarian atas ketidakmampuan kerja kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri:
Apakah sebetulnya motivasi kita bekerja?
  • Apakah masih asal kerja demi menggugurkan kewajiban saja?
  • Apakah didasari sebuahkompetisi sehingga selalu ingin bersaing dengan ibu lain atau keluarga lain?
  • Ataulah karena panggilan hatisehingga kita merasa ini adalah bagian dari peran diri sebagai khlaifah Allah di muka bumi?
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita. Buktinya akan tampak pada hal-hal berikut ini:
  • Jika kita masih asal kerja, maka yang terjadi adalah kita akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi. Kita kakan menganggap pekerjaan-pekerjaan tersebut sebagai beban, bahkan bisa jadi mencari segala cara untuk lari dari kenyataan.
  • Jika didasari oleh rasa berkompetisi, maka yang terjadi kurang lebih sama. Kita akan merasa stress setiap kali melihat ibu lain atau keluarga lain lebih sukses.
  • Sedangkan jika kita bekerja karenapanggilan hati, maka yang terjadi adalah kita akan merasa sangat bergairah dalam menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, kita akan mencari tugas berikutnya dengan rasa bahagia, tanpa mengeluh.

Ibu Manajer KeluargaPeran ibu sejatinya adalah seorang manajer keluarga. Masukkan dulu prinsip ini ke dalam mindset kita.

Saya Manajer Keluarga
Kemudian berpikir dan bersikaplah selayaknya seorang manajer.
  • Hargai diri kita sebagai seorang manajer keluarga. Misal yang paling sederhana: pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas kita sebagai seorang manajer keluarga. Jangan berpenampilan asal-asalan, karena seorang manajer tidak mungkin demikian.
  • Rencanakan segala aktivitas yang akan kita kerjakan baik di ranah domestik (rumah) maupun di ranah publik. Kemudian patuhi rencana yang sudah dibuat tersebut.
  • Buat skala prioritas.
  • Bangun komitmen dan konsistensi dalam menjalankannya.

Menangani Kompleksitas Tantangan
Semua ibu pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di ranah domestik (rumah) maupun di ranah publik (organisasi, tempat kerja). Maka, ada beberapa hal yang perlu kita praktikkan, yaitu:
a. Put First Things FirstLetakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Bagi kita, yang utama tentu saja suami dan anak-anak. Maka buatlah perencanaan sesuai dengan skala prioritas tersebut setiap harinya. Jika perlu, aktifkan fitur gadget kita sebagai alat bantu organizer dan reminder kegiatan kita.
b. One Bit At a Time
Apakah itu one bit at a time? Maksudnya adalah:
– Lakukan setahap demi setahap
– Lakukan sekarang– Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan
c. Delegating
Delegasikan tugas yang bisa didelegasikan. Entah itu kepada anak-anak yang sudah lebih besar, atau ke asisten rumah tangga kita. Ingat, kita adalah manajer. Jadi bukan menyerahkan begitu saja tugas kita kepada orang lain, melainkan kita buat terlebih dahulu panduannya, kemudian kita latih orang lain tersebut, dan biarkan orang lain patuh pada aturan kita.
Latih – percayakan – tingkatkan – latih lagi – percayakan lagi – tingkatkan lagi – dan begitu seterusnya.
Khusus untuk urusan pendidikan anak, karena hal tersebut adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka jika kita memilih untuk mendelegasikan urusan pendidikan anak ini kepada pihak lain, usahakan jadi pilihan yang terakhir. Maksudnya, upayakan dulu segala cara supaya urusan pendidikan anak sebisa mungkin tetap dipegang oleh kita sebagai ibu. Kalaupun ada pihak lain, bisa jadi bentuknya bukanlah delegasi melainkan kolaborasi, dimana kita masih tetap terlibat dalam mendidik anak, karena memang itu tanggung jawab utama kita. Misal dengan cara pihak lain tersebut diberikan training dulu, diajarkan, sehingga sesuai dengan standar dan arahan kita, demi menuju tujuan yang sudah kita bangun bersama suami.

Perkembangan PeranKadang ada pertanyaan,
“Mengapa saya belum mahir menjadi seorang manajer keluarga padahal rasanya sudah lama menjadi seorang ibu?”
Nah ini menarik. Sebetulnya, jika kita sudah melewati 10.000 jam terbang, seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumah tanggaan. Tapi mengapa masih belum terasa ahli? Tentu bisa jadi.. karena selama ini KITA MASIH SEKADAR MENJADI IBU.
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas diri agar tidak sekadar menjadi ibu lagi, antara lain:
  • Jika saat ini kita masih menjadi kasir keluarga, yang setiap suami gajian, kita terima uangnya, kita catat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis sementara gajian bulan berikutnya masih panjang. Maka apa yang harus kita lakukan untuk mengembangkan diri? TINGKATKAN ILMU KITA DI BIDANG PERENCANAAN KEUANGANsehingga kita tidak hanya menjadi kasir keluarga, melainkan menjadi manajer keuangan keluarga.
  • Jika saat ini kita masih menjadi tukang masak keluarga yang tugasnya memasak keperluan makan keluarga, dan masih sekadar menggugurkan kewajiban saja bahwa ibu itu ya memang sudah seharusnya masak. Tentu hal itu cepat atau lambat akan membuat kita merasa jenuh di dapur. Maka apa yang harus kita lakukan untuk mengembangkan diri? TINGKATKAN ILMU KITA MENGENAI MANAJEMEN GIZI. Sehingga terjadilah perkembangan peran. Misal menu makanan untuk 10 hari ke depan sudah kita rencanakan, bahkan bahan masakannya pun sudah tertata rapi di kulkas sehingga ketika datang waktu masak, semua proses penyediaan makanan berjalan lebih efektif, bahkan seluruh anggota keluarga bisa mewakilkan kita untuk melakukan tugas sebagai tukang masaknya. Apakah peran kita berkembang? Tentu, di saat itu tiba, kita tengah berubah peran dari tukang masak keluarga menjadi manajer gizi keluarga.
  • Jika saat ini kita masih menjadi tukang antar jemput anak ke dan dari sekolahnya, yang nyatanya tidak membuat kita semakin pintar dalam urusan pendidikan anak karena justru aktivitas rutin yang terselip dari agenda antar jemput anak tersebut adalah banyaknya ngobrol tidak jelas arah antar sesama ibu-ibu yang sama-sama sedang jadi tukang antar jemput anak sekolah. Maka apa yang harus kita lakukan untuk mengembangkan diri? TINGKATKAN ILMU KITA MENGENAI PENDIDIKAN ANAK. Sehingga peran kita pun berkembang lagi menjadi manajer pendidikan anak. Anak-anakpun pasti semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan, tidak harus selalu di jalur formal.
  • Lalu cari peran lagi yang saat ini sedang dilakukan, kemudian tingkatkan, tingkatkan, sehingga berkembanglah peran tersebut menjadi peran baru yang lebih profesional.

Jangan sampai kita, seorang ibu, yang seharusnya menjadi manajer keluarga handal, justru terbelenggu dengan rutinitas, baik di ranah domestik maupun di ranah publik, sehingga kita lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.
Jika terjadi demikian, akhirnya yang muncul adalah kita bukannya meningkatkan jam terbang melainkan sebuah pengulangan aktivitas dari hari ke hari. Sehingga kita tertipu, seakan-akan sudah puluhan ratusan atau bahkan ribuan jam, padahal hanya segitu segitu saja, karena satu aktivitas diulang-ulang tanpa adanya peningkatan yang berarti.
Ingatkan pada diri kita, hanya ada 2 pilihan, yaitu: BERUBAH atau KALAH!
Salam Ibu Profesional.
Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional.

Aliran Rasa tentang Observasi gaya Belajar Anak...
Dengan adanya waktu yang difokuskan untuk mendengar,  melihat Dan menyelami membuat saya kembali bersyukur Dan menikmati anugerah terindah permata hati.  Anak-anak dengan kesempurnaan fisik dan fitrah belajarnya yang utuh seolah berdemo padaku "Hai Umi!  Lihatlah,  perhatikanlah aku,  temanilah aku bermain,  bimbinglah dan munculkanlah kecerdasanku dengan gayaku ini...
Tugas ini menyadarkan aku akan pentingnya Umi dan Abinya turut serta bermain bersama mereka,  bukan menjadi bos mereka,  dengan mudahnya berkata "hai kesini nak..  Belajar yuk belajar,,  sini ngaji yuk ngaji.. " Karena mereka Ada pada dunianya,  maka masuklah pada dunia mereka yaitu bermain.
Auditori,  Visual Dan kinestetik hanya pengantar saja,  saat moody belajarnya sudah muncul maka serta merta fitrah belajarnya beraksi.
Pada bidang matematika Ghaida Dan Syifa perlu gaya kinestetik,  belajar Bahasa Dan menghafal al-Qur'an dibutuhkan gaya Auditori visual.  Bidang sains sangat terbantukan dengan auditori,  visual Dan kinestetik.

Setelah kita mengetahui gaya belajarnya,  selanjutnya adalah menumbuhkan gairah belajar mereka lalu menfasilitasinya. Hayulah... Pancing rasa ingin tahu mereka (intellectual curiousity), bebaskan mereka melakukan seni penelitian dan penemuan sederhana (art of discovery and invention), dukung mereka saat menemukan imajinasi kreatif  (creative imagination).
Pada akhirnya fitrah suci belajar mereka akan berbuah sikap mulia berupa akhlak pembelajar (noble attitude).

PR bertambah : Bersabar membersamai anak lanang.

Tugas : Mengamati Gaya Belajar Anak
Tanggal : Ahad, 30 April 2017
Kegiatan :Menirukan tayangan du video
Hasil : Ghaida ( Audio visual), Syifa (Audio kinestetik)

Hari itu sepulang dari rumah nenek, Ghaida tidak biasanya minta pake baju pendek (yukensi), main dandan2an dilanjut nyanyi- nyanyi menirukan tayangan yang ada di video.
Tayangan itu nyanyian nasyid yang dibawakan Serunai Mafaza, tapi anak- anak begitu menikmati lafu dengan pakaian yang tidak sama dengan di video ( efek nonton film kartun), ya sudah deh Umi ikuti saja…
Mereka Asyik menirukan gaya penyanyi sambil mulutnya ikut menyanyikan lirik yang belum mereka hafal. Ghaida begitu serius, ingin sama persis gerakannya, sampai saua sengaja pindahkan lagu yang lain uang gambarnya kurang jelas, ternyata dia protes berat! “Gak mau lagu itu u, gambarnya kecil, gak keliatan gerakannya”. Nah, gaya visualnya Ghaida tidak mau diganggu.
Beda halnya Syifa, dia tetep asyik saja menirukan gaya di video, tapi pandangan nya tidak sefokus Ghaida, dia enjoy mengikuti irama dan goyang sepenglihatannya saja. Sesekali dia berbeda. Pendengaran menjadi no. 1 untuk gayanya Syifa. 

Tugas : Mengamati Gaya Belajar Anak #9
Tanggal : Jum’at, 28 April 2014
Kegiatan : Menggambar
Hasil : Ghaida ( Visual), Syifa (Visual)

Kegiatan menggambar kali ini berkaitan dengan moody berjualan Ghaida. Dia sudah punya 8 gambar yang laku dijual. Kualitas gambar anak2 usia 5 tahun termasuk biasa- biasa saja. Saya mengajukan permintaan pada Ghaida Kali ini yaitu melihat dan menirukan gambar baru yang ada di hp
Rupanya dia masih kesulitan untuk.menggambar orang dengan posisi memegang balon sambil kepala mendongak ke atas.
Ghaida tiba- tiba.tantrum, kesal karena hasil gambarnya “gagal" menurutnya.
Untuk menenangkannya saya ambil secarik kertas dan melatihnya dalam step by step menggambar orang dengan pose tertentu dan lingkungan sebagai latarnya.Tapi ternyata rengekan Ghaida semakin menjadi karena gambar muka orangnya tidak sama dengan yang ada di hp.
Akhirnya saya mengajaknya untuk istirahat dulu, makan siang agar pikiran lebih tenang.
Adapun Syifa, dia sibuk menggambar orang sesuai imajinasinya saja (sangat detail menggambarkan bagian tubuh,  misal tangan jarinya ada 5, mulut giginya banyak) tidak tertarik dengan gambar kakaknya apalagi yg ada di hp.
Melihat kasus ini Ghiada dan Syifa termasuk pada gaya Visual yang menyukai hal yang detail saja, sedang kerapihannya mereka belum mempedulikan.

*mohon maaf, gambarnya tertinggal di rumah sodara, belum sempat di foto

Tugas : Mengamati Gaya Belajar Anak #9
Tanggal : Jum’at, 28 April 2014
Kegiatan : Menggambar
Hasil : Ghaida ( Visual, Kinestetik), Syifa (Visual Kinestetik)

Kegiatan menggambar nkali ini berkaitan.dengan hobi berjualan Ghaida. Dia sudah punya 8 gambar yang laku dijual. Kualitas gambar anak2 usia 5 tahun termasuk biasa- biasa saja. Dan yang Saya inginkan dia.bisa melihat gambar dan menirukan gambarnya, bukan menggambar apa yang biasa ia gambar sebelumnya yang sudah menempel.dalam kepalanya.
Kali ini saya mrmang menyuruhnya untuk.melihat gambar baru yang ada di hp.
Rupanya dia.masih kesulitan untuk.menggambar.orang dengan.posisi.memegang balon sambilnkepala mendongak ke atas

#1minggu1cerita

Selamat Membaca

Teman Baikku

Diberdayakan oleh Blogger.
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates